Selasa, 05 Januari 2010

Kambing

Joni Ariadinata
http://www.jawapos.com/

Di pintu surga nanti, ia adalah kambing yang sial. Daging memang gemuk-gempal, bulu putih mulus, tanduk melingkar kokoh, harapan hidup dan masa depan gemilang –ya ya, memang begitu, semua ihwal tentang syarat masuknya ‘’surga para kambing” (seperti yang dikatakan Tuhan dalam kitab-Nya) telah tercukupi. Maka ketika roh baiknya dicabut, ia tersenyum. Di saat liang nafasnya ngorok lantaran sekarat, kamu bayangkanlah itu: ”darah ini muncrat melesat dari jantung muda dan sehat!” Maka ia teramat ikhlas. Di kala lehernya yang mulus itu digorok dengan bismillah, lalu tulang penyangga leher itu ditebas paksa dengan suara ”krak!” hingga menggelindinglah kepalanya dengan sukses (disertai sorak sorai anak-anak), ia masih begitu gembira. Lalu kakinya yang kokoh dipotong-potong, kulitnya yang mulus disayat-sayat, dagingnya diiris-iris, jerohan diobrak-abrik, hati dan jantung dicabut, tulang-belulang dicacah dirajang dipisah-pisah….

Maka rohnya yang suci dan penuh harapan pun terbang menuju pintu surga. Surga yang dijaga para malaikat (malaikat yang menyerupai kambing-kambing dengan ketampanan tak tertandingi). Lalu, pada saat itulah ia tahu bahwa ia adalah kambing yang sial. Seorang malaikat penjaga dengan tegas berkata: ”Tuhan telah berkata kepadamu, lewat perantara aku, bahwa kamu ditolak untuk memasuki surga.”

Demikianlah maka ia menggerutu tentang sebab-sebab nasib yang celaka.

Kampung Darjeling, itulah kampung para pencari surga yang ingin ia ceritakan. Di bawah terob deklit plastik saat seutas tali gantungan terpancang hebat, menjulur mengayun-ayun. Orang-orang menatap kagum, para lelaki, perempuan-perempuan, anak-anak, menantikan sesuatu. Berderet, bergimbung, ada yang pura-pura sibuk, menggobrol, menunjuk-nunjuk. Langit cerah. Angin sejuk. Di bawah deklit tali gantungan semakin hebat. Lalu meledak suara riuh: ”Mereka datang!” Load speaker merek Toa dibunyikan: ”Sodara-sodara, binatang sudah datang. Harap bertepuk tangan!!”

”Semua takbir! Ayo, yang bisa takbiran, semua ikut takbir! Mumpung hari raya kurban. Yang hanya bisa ngomongin orang saja, kali ini diam! Ibu-ibu jangan cerewet. Cukup kalian lihat. Ke mana Usthaadd Mariot, he?” Haji Dulroji sinis menyebut kata ”ustad” dengan ”usthaadd” lantaran kedudukannya di mata Tuhan lebih baik. Lalu tiga lelaki tua, peot, dan mungkin hampir mati, mengerti: mereka tertawa. Lalu seorang di antara yang tua, peot, dan mungkin hampir mati itu bilang: ”Usthaadd Mariot tak kelihatan. Tak datang. Dia pasti malu.”

”Apa perlu disusul?”

”Tak perlu,” Haji Dulroji merebut mikropon yang dipegang Solsoleh. Solsoleh tentu bersikeras mempertahankan mikropon seperti membela nyawanya sendiri lantaran ”dalam rapat panitia besar, ia ditetapkan secara resmi menjadi pembawa acara”. Solsoleh memberi sumbangan untuk binatang sebanyak 20 ribu, itulah kenapa ia mendapat kehormatan sebagai pembawa acara. Sementara Kaji Dulroji (ia menyebut kata ”haji” dengan ”kaji” semata-mata lantaran benci), cuman menyumbang 5 ribu. Tapi demi Tuhan Yang Maha Penyayang (karena melihat bagaimana mata Kaji Dulroji melotot), ia ngeri, dan menyerahkan mikropon segera. ”Aku hanya pinjam mikroponnya sebentar, Solsoleh!”

”Nah, sodara-sodara,” teriak speaker Toa dari mulut Haji Dulroji, ‘’sehubungan karena Usthaaaadddd Mariot tak datang (hadirin tertawa), maka kita mulai saja penyembelihan binatang. Tak perlu pake doa bahasa Arab untuk memulai pembunuhan binatang, karena hanya Usthaaadd Mariot yang biasanya suka pamer, pura-pura ngerti bahasa Arab (hadirin tertawa lagi). Tuhan tidak bodoh. Dia pasti ngerti bahasa kita. Setuju?”

”Setuju!”

Orang-orang bersorak. Bergimbung berkeliling. Membentuk lingkaran. Binatang yang baru datang (diiringi sorak sorai) digiring ke tengah naungan deklit, di bawah tali gantungan hebat. Ia adalah binatang, seekor kambing gemuk yang gagah. Ia yang sesungguhnya dididik oleh tangan gembala jujur. Dengan makanan rumput halal yang selalu dijemput dengan bismillah. Hingga pada sebuah pagi (sebuah pagi yang ia rasakan sebagai puncak kemudaan dan kegagahan), tubuhnya yang perkasa itu digiring menuju pasar hewan. Lalu seorang saudagar bernama Juragan Imron menaksirnya dengan penuh kekaguman. Pada saat bersamaan, muncul Lelaki Berpakaian Santri membawa segepok recehan terdiri dari uang logam ratusan, seribuan, lima ribuan, dan sepuluh ribuan dengan ukuran fantastik: satu kantong plastik kresek. Demikian Lelaki Berpakaian Santri mengatakan: ”Uang hasil patungan warga Kampung Darjeling untuk satu ekor kambing gemuk!” Gembala jujur menerima uang dari Juragan Imron tujuh ratus dua puluh ribu. Lelaki Berpakaian Santri membeli kambing gemuk dari Juragan Imron seharga delapan ratus dua puluh ribu, dengan pesan penting (didahului oleh ucapan assalamu’alaikum) sebagai berikut: ”Dalam kuitansi, catat harganya sembilan ratus lima puluh dua ribu!” Tentu, Juragan Imron mengatakan dengan bijak: ”Biasa lah sodara, kita sama-sama maklum. Tambah dua puluh ribu untuk menaikkan angka kuitansi. Bagaimana?” Kedua-duanya mengangguk. Kedua-duanya tertawa. Lelaki Berpakaian Santri menyeret binatang dengan impian bisa membelikan anaknya pakaian, sekaligus ”jatah daging paling banyak”. Sementara Juragan Imron melepas binatang dengan lega sambil menjawab ucapan salam yang berbunyi, ”Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarokaatuh.”

Maka demikianlah binatang paling beruntung di hari raya kurban itu diseret menuju tiang tali gantungan. Haji Dulroji berkenan untuk tetap merebut mikropon dari Solsoleh, mengatakan dengan khidmat: ”Sodara-sodara, seperti kita ketahui bahwasanya Usthaaadd Mariot tidak datang karena malu. Kenapa karena malu? Karena sodara-sodara, seperti kita ketahui, dia tidak setuju dengan adanya kurban patungan. Nah, sehubungan dengan itu, saya minta sodara yang biasa membunuh binatang supaya maju menggantikan Usthaaadd Mariot!”

”Kalo dia tidak setuju kurban patungan, kenapa dia tidak kurban saja sendirian?”

”Nah, betul apa katamu Murod! Dia bilang, kurban patungan itu tidak sah. Nah, apa pendapatmu Murod? Seperti kita ketahui bersama, sodara-sodara, kurban itu yang penting adalah binatang. Binatang itu sekarang sudah ada, yaitu hasil patungan kita, warga yang beriman. Untuk itu, marilah sebelum kita bunuh, kita berdoa pake bahasa kita! Nah, sodara Murod, apakah kamu pernah membunuh binatang?”

”Saya pernah membunuh babi hutan.”

”Sebentar Pak Haji, apa perlu para penyumbang patungan itu diumumkan?” seseorang menyela.

”Tidak perlu!!” buru-buru Haji Dulroji mengelak dengan galak, tentu ia yang akan malu lantaran nilai patungannya cuman lima ribu. Ketika Ustad Mariot menuding pada saat rapat besar kampung, seminggu yang lalu, ia masih bisa mengelak dengan mengatakan: ”Sebagai haji, tentu aku sudah berniat berkurban. Tapi karena anakku mendadak minta dibelikan sepeda balap, maka niat itu terpaksa kutunda. Tahun depan aku pasti berkurban. Nah, sodara Ustad Mariot, daripada tidak ada yang berkurban sama sekali, bukankah lebih baik patungan? Nah, kurban itu yang paling penting adalah ada binatang, nah, bla-bla-bla….”

”Sodara Murod, apakah sudah siap membunuh binatang?” kembali Haji Dulroji memberi perintah. ”Tak usah diumumkan. Tuhan toh sudah tahu siapa yang beriman dan siapa yang tidak.”

”Sebentar Pak Haji, ada surat dari Kepala Dusun!” seseorang menyeruak maju. Haji Dulroji kembali mangkel. ”Surat apa, heh?”

”Katanya amanat. Penting.”

Haji Dulroji menggerutu. Ia menerima amanat penting dan membacanya dalam hati: ”Kepada Haji Dulroji, ulama kepala panitia kurban. Sehubungan saya mendengar akan ada perayaan yang di dalamnya ada menyembelih kambing. Maka sehubungan istri saya hamil dan tadi malam nyidam dan ada permintaan perihal daging kambing. Maka harap setelah selesai penyembelihan, dikirim buntut dan satu paha kanan belakang untuk kepentingan nyidam dimaksud. Harap diteruskan kepada yang berwenang membagikan daging kambing. Sekian dan terima kasih. Tertanda Ngadimin Basir Kepala Dusun.”

Haji Dulroji komat-kamit tak jelas. Hadirin mendekat tak sabar, merubung hingga Haji Dulroji sontak marah: ”Yang tidak berkepentingan bubar! Coba, panitia inti berkumpul. Kita rapat darurat!” Tentu, mendengar kata rapat darurat (yang artinya adalah pasti gawat), 23 orang panitia inti yang terdiri dari 7 sesepuh sebagai koordinator setiap seksi, serta 16 anggota tetap langsung mendekat. Rapat bisik-bisik. Surat amanat kembali dibaca bisik-bisik. Tegang. Seseorang sesepuh bilang tak apa. Yang lain usul jangan paha kanan, buntut dan kaki kanan saja. Hus, lelaki ketua RT yang adalah masih famili Kepala Dusun menggerutu. Sukarim, ketua seksi undangan yang sejak awal memang gelisah, bilang dengan malu, ”Sebetulnya saya kepingin terus terang, istri saya kurang darah, tentu saja kalau boleh saya mau minta hatinya, dan juga jatah daging tentu, yah… begitulah yang namanya penyakit, saya pikir semua pasti setuju, yah…” Demi mendengar hal-hal kegawatan soal penyakit, tiba-tiba semua wajah mendadak cerah. Sepertinya telah datang ilham-ilham yang baik. Haji Dulroji berkata jujur, ia kena asam urat, maka untuk jatahnya tak boleh tercampur usus, ”harus daging semua”. 10 orang langsung mengatakan setuju, sambil mengatakan bahwa akhir-akhir ini mereka juga merasa darah rendah, ”kalau berdiri suka agak pusing,” katanya. Walhasil, bagi yang mengatakan darah rendah, jatahnya harus ditambah. Ada yang usul secara istimewa bahwa sudah seminggu ini dua anaknya bertengkar terus, harus dikasih torpedo katanya, biar rukun. ”Maksud sodara Sali, dikasih kontol kambing? Itu memang baik untuk merukunkan dua saudara yang bertengkar, baik, nanti kita tambah jatahnya dengan torpedo.” Semua tertawa. Lucu. Akhirnya rapat darurat ditutup dengan kesimpulan-kesimpulan yang mengagumkan. Seluruh panitia inti bisa bernafas lega, sampai ketika tiba-tiba Ahmad Masri bertanya: ”Bagaimana dengan jatah Ustad Mariot?”

Panitia inti yang nyaris bubar dengan tertawa, tiba-tiba hening. Menatap Haji Dulroji dengan tegang.

”Tak usah dikasih! Dia kan tidak setuju,” Haji Dulroji berkata tegas.

”Tapi bagaimanapun dia imam di surau. Dan juga sering ngisi pengajian di kampung sebelah. Bagaimana kalau dia terus ngomongkan fitnah di kampung sebelah?” Nah, ini dia muncul persoalan, dan baru terpikir oleh semua, bahwa Ustad Mariot bermulut tipis, nyinyir, dan ceriwis. Maka, demi melihat kegawatan muka-muka panitia inti yang mendadak terdiam, dengan bijak akhirnya Haji Dulroji mengambil keputusan penting. Sebuah keputusan yang diyakini semua pihak berdasarkan ilham yang datang dari Tuhan.

”Kalau begitu, kita kirim kepala kambing!”

Rapat bubar. Di bawah tali gantungan yang hebat, Murod komat-kamit berdoa, dengan gobang berkilat. Siap membunuh.

Adalah kambing sial, yang seluruh jiwa dan raganya telah dipasrahkan pada kehendak takdir. Di bawah naungan deklit. Angin sejuk. Matahari yang cerah. Kegembiraan orang-orang. Sesungguh-sungguhnyalah ia adalah kambing gemuk perkasa, yang dibesarkan oleh tangan gembala jujur. Dengan rumput halal yang senantiasa dijemput dengan bismillah. Maka ketika rohnya tercerabut, ia terbang dengan penuh keyakinan menuju pintu surga. Terbang diiringi gema takbir bersama jutaan roh-roh binatang suci yang datang dari berbagai penjuru. Demikian ia tak pernah paham, bahwa keputusan Tuhan atas nasibnya yang gemilang, lantaran terhalang oleh kemarahan seorang lelaki. Begitulah malaikat penjaga surga itu menceritakan, tentang seorang lelaki miskin yang tiba-tiba beringas. ”Ia adalah lelaki miskin yang menenteng kepala kambing penuh darah dari pintu rumahnya. Lelaki itu kemudian berteriak dan menyebut kepala kambing itu dengan sebutan ”kepala kambing haram”. Dan dengan bengis melemparkannya ke tengah orang-orang.”

Jogjakarta, Desember 2008

Horison Sastra Indonesia

Joni Ariadinata*
http://www.infoanda.com/KoranTempo

Kalau Beni R. Budiman (Koran Tempo, 16/2) mengawali tulisannya dengan kalimat pembuka yang berisi pernyataan (pengakuan?) sebuah “kebingungan”, maka itu pantas baginya. Sebuah antologi besar semacam Horison Sastra Indonesia (HSI), memang tidak bisa disikapi secara serampangan, apalagi dengan nawaitu kecurigaan yang besar. Kapasitas Beni R. Budiman bisa diukur lewat tulisannya di harian ini, juga di Media Indonesia (10/2) yang kurang lebih sama.

Sebuah antologi semacam ini memang tak bisa dipisahkan dari tabiat antologi sejenis. Ia akan senantiasa diperbaiki dan diperbaiki lagi. Ini pun terlihat dari HSI. Bermula dari sebuah antologi tebal satu jilid dengan judul Dari Fansuri ke Handayani (DFkH), segera ia diubah menjadi empat jilid tebal HSI. Sastrawan yang belum termuat dalam DFkH, kini termuat dalam HSI. Sebaliknya, beberapa nama yang sebelumnya ada dalam DFkH kini justru menghilang dari HSI.

Selepas peluncuran HSI, berbagai tanggapan bermunculan. Ada yang memuji, ada yang gembira, dan ada yang protes. Yang memuji tak perlu disebut namanya, dan tak perlu dibesar-besarkan meski jumlahnya banyak. Yang gembira, tentu saja guru-guru sastra dan para siswa di seluruh Indonesia. Bayangkan, di tengah kelangkaan bahan bacaan sastra, tiba-tiba mereka mendapat 4 jilid HSI dan sejilid Horison Sastra Pelajar. Bentangan sastra Indonesia, secara relatif –sekali lagi, relatif–lengkap bisa mereka baca dari HSI.

Namun, tentu saja, tak ada gading yang tak retak. Jika tak retak, tentu bukan gading (mungkin plastik?). Nah, retak-retak yang terdapat dalam gading HSI memancing protes dari beberapa kalangan. Jika dirumuskan, ada tiga kalangan yang terlibat dalam peristiwa ini. Pertama, mereka yang karyanya memenuhi kriteria dan patut masuk dalam HSI, namun menolak. Kedua, mereka yang karyanya dilihat dari kualitas dan kesastrawanannya sama sekali tidak layak masuk HSI. Ketiga, mereka yang karyanya memenuhi kriteria dan patut masuk dalam HIS, namun tidak dimasukkan karena khilaf.

Protes yang pertama muncul di media massa adalah protes mengenai kategori pertama, sebagaimana dilansir Gatra, dengan tajuk yang khas, “Antologi Para Wasit”. Satu halaman majalah Gatra digunakan untuk mempermasalahkan mengapa Sitor, misalnya, tidak masuk, dan mengapa para editor masuk. Berita mengenai peluncuran HSI diisi oleh wawancara dengan Beni R. Budiman nun jauh dari Bandung sana sehingga judulnya serupa itu.

Dalam tulisan ini, protes dari mereka yang mempermasalahkan mengapa sastrawan yang masuk kriteria namun menolak dimasukkan dalam antologi tidak akan dibicarakan. Menerima dan menolak dimasukkan dalam antologi adalah masalah pribadi. Menolak atau menerima ajakan menyediakan bacaan bagi anak sekolah, juga hak pribadi. Kita semua, saya kira, harus menghormati keputusan ini, apa pun alasannya.

Membicarakan alasan penolakan pun tidak banyak membantu, karena menolak adalah menolak. Alasannya bisa bermacam-macam, mulai dari tidak setuju dengan ideologi editor, tidak suka dengan gaya berpakaian editor, meragukan kredibilitas editor, hingga menolak memasukkan karya karena didesak keluarga, misalnya.

Protes kategori kedua, yakni dari kalangan yang tidak masuk antologi karena memang tidak layak masuk, ditunjukkan oleh tulisan Beni R. Budiman (BRB) yang muncul di Media Indonesia, kemudian tulisan yang sama dengan beberapa perubahan kecil itu dimuat di Koran Tempo pula. Protes semacam ini juga tidak akan dibahas di sini. Wajarlah seseorang meradang-menerjang karena karyanya dianggap tidak layak. Lagi pula, untuk membayangkan mutunya sebagai sastrawan, pembaca bisa langsung menilai mutu tulisannya di koran ini dan terutama di Media Indonesia yang salah data di hampir semua hal kecuali satu: menulis namanya sendiri.

Untuk mencegah timbulnya dugaan yang tidak-tidak, saya perlihatkan beberapa contoh kesalahan fatal dalam dua tulisannya sekaligus. Pertama, BRB memprotes mengapa Ike Soepomo masuk, sedangkan penulis sejenis tidak; padahal nama Ike Soepomo jelas-jelas tidak ada dalam HSI, tapi adanya di DFkH. Kedua, dia memprotes antologi yang berisi cuplikan (fragmen) novel, lalu bertanya: apa bedanya dengan mewabahnya ringkasan novel di sekolah-sekolah. Jelas, bahwa fragmen tidak sama dengan ringkasan.

Ketiga, dia memprotes mengapa para editor masuk antologi HSI, sambil menyebut antologi yang editornya tidak masuk seperti antologi susunan H.B. Jassin, Angkatan 2000 (Korrie Layun Rampan), dan Laut Biru Langit Biru (Ajip Rosidi). Jelas, H.B. Jassin tidak memasukkan karyanya karena dia bukan sastrawan. Begitu juga dengan Korrie Layun Rampan. Sebagai pengarang yang “bukan angkatan 2000″, dia tidak mungkin memasukkan karyanya dalam antologi Angkatan 2000 (apa pun makna angkatan 2000 itu), sebagaimana Korrie tidak memasukkan karyanya dalam antologi sastra perempuan yang dieditorinya karena dia bukan perempuan.

Atau juga sebagaimana Sinansari ecip tidak memasukkan suratnya dalam kumpulan Surat Anak Indonesia kepada Presiden Soeharto, karena beliau bukan anak-anak. Sementara itu, baik Ajip Rosidi maupun Linus, jelas akan memasukkan karyanya dalam antologi yang mereka susun, karena mereka berdua adalah sastrawan yang tidak mungkin lagi dipertanyakan kualitasnya. Jika diperpanjang, makin banyak kesalahan dan kekumuhan di dalamnya, tapi cukuplah sekian dulu.

Protes dari kategori ketiga, terutama diwakili oleh Sinansari ecip di Koran Tempo, yang intinya menggugat mengapa sastrawan Sinansari ecip tidak masuk HSI. Mengingat antologi seperti HSI sejauh ini belum ada di Indonesia, bisa dibayangkan kekecewaan sastrawan ecip yang, dalam banyak hal, karyanya jelas masuk kriteria tapi tidak masuk karena kekhilafan editor.

Pertama kali mengetahui hal ini, semua editor kecewa dan menyesal. Mungkin dengan rasa kecewa dan sesal yang lebih besar dari Sinansari ecip sendiri. Sebab, masuk atau tidak dalam HIS, Sinansari ecip tetap sastrawan, tapi tidak masuknya beliau dalam HSI membuat HSI jadi sedikit kurang lengkap. Kurang afdol. Situasi ini, saya kira, tidak bisa diselesaikan dengan polemik, melainkan harus diselesaikan dengan koreksi. Tidak masuk akal untuk menarik ulang seluruh HSI, membongkarnya untuk memasukkan nama Sinansari ecip ke dalamnya.

Lebih masuk akal mencatat namanya, dan nama sastrawan-sastrawan lain yang senasib dengan beliau, guna edisi perbaikan yang akan datang. Sebagaimana dikemukakan di muka, adalah tabiat antologi sejenis ini untuk senantiasa dikoreksi dan dikoreksi kembali. Apalagi, judul antologi itu adalah Horison Sastra Indonesia, dan diterbitkan oleh majalah sastra yang namanya Horison pula.

Ketika DFkH terbit, kami lihat horizon itu menjauh. Tidak tergapai tangan. Diperbaiki dengan HSI, ternyata kaki langit itu menjauh pula. Tidak terbayangkan antologi sebesar ini akan langsung sempurna. Meski demikian, tidak benar juga bahwa antologi itu langsung tidak berharga karena satu-dua nama terlewatkan. Beratus nama sastrawan minus beberapa tentunya masih bisa dianggap tegak. Dengan hasil semacam itu, saya kira tidak patut para editor untuk berkecil hati, apalagi merasa puas.

Jelas bahwa Sinansaari ecip semestinya masuk namun tidak tercantum. Jelas juga bahwa tidak mungkin membongkar HSI untuk memasukkannya. Jadi, semakin terang bukan, bahwa semua persoalan yang muncul dalam polemik mengenai HSI sudah bisa dikatakan selesai. Selanjutnya saya kira kita bisa segera memulai polemik pada tahapan baru yang lebih substansial dan lebih kritis, baik khusus mengenai HIS maupun menimbang kembali seluruh antologi penting dalam sastra Indonesia, misalnya Gema Tanah Air (H.B. Jassin), Laut Biru Langit Biru (Ajip Rosidi), dan HIS, sebagai sebuah perbandingan.

Bisa juga antologi khusus puisi seperti Tonggak (Linus Surjadi AG), Mimbar Penyair Abad 21 (DKJ); juga antologi besar Satyagraha Hoerip, Cerpen Indonesia Mutakhir. Pun antologi sebuah angkatan, misalnya Sastra Indonesia di Masa Jepang serta Angkatan 66 (H.B. Jassin), serta Angkatan 2000 (Korrie Layun Rampan).

Dari perspektif semacam itu, membicarakan HSI menjadi menarik dan banyak gunanya buat pembaca. Dengan itu pula bisa dilihat apakah HSI merupakan antologi dengan kriterium Sekolah Menengah seperti ditengarai oleh A. Rivai (Media Indonesia). Jika ya, bagaimana dengan Horison Sastra Pelajar yang berisi karya-karya pelajar SMU kita yang ternyata dahsyat-dahsyat itu? Dalam perspektif itu pula dapat dinilai secara obyektif kualitas HSI dibandingkan dengan Gema Tanah Air dan/atau Laut Biru Langit Biru, dilihat dari materi sastrawan yang disertakan maupun kualitas karya sastra yang terdapat di dalamnya. Hasil analisis kritis semacam itu, jika perlu menggunakan langkah-langkah ilmiah yang disarankan oleh Sinansari ecip, niscaya akan memberi publik sastra Indonesia pengetahuan dan pengayaan yang berarti. Itu juga akan berguna bagi perbaikan HSI serta antolog-antologi lain yang telah terbit di Indonesia. Dan, ini bisa memperkaya mereka yang berminat untuk menyusun antologi, baik disusun oleh sastrawan maupun oleh kritikus. Karena saya termasuk kaum yang tidak gemar melarang dan mengharuskan, seperti “antologi harus disusun kritikus, tidak boleh oleh sastrawan; karya sastra harus dibuat oleh sastrawan, tidak boleh oleh kritikus”.

Sebagaimana para sastrawan Indonesia (Linus, Ajip, Satyagraha, Taufiq Cs.) boleh membuat antologi, kritikus seperti Tommy F. Awuy pun boleh membuat kumpulan cerpen. Tinggal semuanya dinilai secara obyektif berdasar kualitasnya. Bahkan mereka yang bukan sastrawan dan bukan kritikus seperti Beni R. Budiman, misalnya, bisa saja membuat antologi. Saya doakan hasilnya semoga bagus. Selamat mencoba!

*) Cerpenis, Anggota Tim Editor Horison Sastra Indonesia.

Tuhan, Bolehkah Kami Bunuh Diri?

Segelas racun babi mengepul di atas meja. Asap kretek melenggok dari mulut menuju petromaks, membentuk gulungan hening. Abah Marta merapatkan handuk dari sergapan dingin di leher dengan gigi gemerotak. Di balik jaket berkaos tebal tersembunyi dada kering kerempeng mengatur desahan napas. Tersengal-sengal karena penyakit asma. Terengah-engah menimbulkan bunyi mirip pompa air mekanik. Mencengik. Mata keriputnya memicing, menatap Wardoyo menantunya yang tengah mempermainkan asap. Ragu-ragu. Berganti-ganti dengan fokus gelas racun menantang di meja. Suara dengkuran menembus gorden pintu di belakangnya; kamar Ambu Marsinah tidur. Ada kemerosak angin. Ada kemerosak bambu-bambu bergesekan di luar.

“Mulailah.” Wardoyo berkata pendek. Menghisap asap kretek ke dadanya dalam-dalam. Ada ketegangan merayap. Ada kegamangan mengalir. Abah Marta sekali lagi menatap wajah menantunya. Kepala Wardoyo mengangguk. Setengah dipaksa setengah putus asa, tangan Abah Marta maju meraih gelas. Racun hangat, manis bercampur kopi, mengepul hangat dalam genggaman. Gemetar. Bibir tuanya gagal tersenyum. Tak tega mata Wardoyo melambungkan ke langit-langit, melihat dua ekor cecak berkejaran. Menunggu.

“Pahit!” Abah Marta menghentakkan cangkir. Mengusap bibirnya cepat. Kemudian meludah, getir. Setengah menit belralu, ia terhenyak. Wajahnya pucat. Panas merajam-rajam perutnya tanpa ampun. Menyeruak ke atas, membetot-betot usus. Lehernya tercekik: “Wardoyyy…” ia berteriak parau. Tubuhnya lantas menggeblag jatuh. Sebelum kakinya menyepak meja dan kursi yang ia duduki terbalik. Suaranya gaduh. Abah Marta berkelojot-kelojot sekarat. Matanya membeliak. Kemudian sunyi. Mati.

***

BERPULUH tahun Rantawi didera penyakit menakutkan. Jika hawa malam berubah dingin, maka sesuatu menggodam dadanya telak. Gumpal kedua belah paru-parunya terasa terhimpit beban berton-ton dan mencekik saluran udara menuju arah kerongkongan. Di saat itulah dunia bagi Eantawi amat gelap dan sumpek. Satu-satu helaan napas ia keluarkan dengan susah payah, menimbulkan bunyi cengik yang menjijikkan; bahkan bagi telinganya sendiri. Barangkali jika bukan karena Ratri, anak perempuan satu-satunya yang mengeluh putus asa, ia tak akan setega ini: membunuh diri dengan segelas kopi bercampur racun babi. Memang Rantawi dengan kehidupannya telah hancur luluh: dua hektare sawah, setengah bahu perkebungan kopi, satu pabrik penggilingan padi telah lepas satu persatu dari tangannya untuk pengobatan tanpa hasil. Tapi melintas pikiran untuk bunuh diri, tak pernah sedikit pun terjangkau. Terlebih karena Rantawi selalu menyimpan ketahanan iman dengan tak pernah lekang berdoa. Berharap satu kemukjizatanakan datang pada suatu ketika.

Tapi malam ini, Tuhan telah berlaku sangat tidak adil. Rantawi gamang atas kemauan Tuhan pada dirinya. Keluarga Mayor Sulaiman mendadak memutuskan pertunangan sepihak bagi anaknya, Ratri. Tentu, adalah pukulan batin teramat hebat karena mereka justru menyalahkan penyakit yang Rantawi derita sebagai alasan pokok. Asma disamaratakan dengan sejenis lepra! Mereka menuntut dikembalikannya harta panjer yang diserahkan melalui upacara sukacita.”Mereka takut Ratri hanya akan menghancurkan karier dan masa depan Kang Basuki,” begitu kata Ratri.Dengan tangisan tersedak-sedak. “Seperti Bapak. Karena asma adalah penyakit keturunan.” “Begitu yakin, apa mereka sudah memeriksamu?” “Mereka menolak. Juga Kang Basuki,”Ratri putus asa. Tiga hari kemudian tak bisa ditanya. Ia hanya mengurung diri dalam kamar. Rantawi marah. Amat marah. Sungguh nasib telah memain-mainkannya seperti potongan gabus dalam amukan air deras. Tapi penegasan Keluarga Sulaiman memang beralasan. Satu-satunya yang patut dipersalahkan pasti hanyalah Tuhan. Begitulah ketika tangannya mantap menuangkan racun. “Kini, tak mungkin ada lagi pemuda yang mau mendekati Ratri, Ayah!” Rantawi memandang meja tertegun-tegun. Sejentik kegamangan menggelepar, tapi gumpal dendam menyumbatnya cepat. Irama jantung berlomba dengan kesunyian.Ya, ya, tidak akan ada pemuda yang mau menyunting ratri selama ia ada — begitu barangjali keinginan Ratri. Entah karena keturunan, entah karena beban bahwa kenyataan Rantawi tak akan bisa lagi hidup tanpa sebuah gantungan. Diseretnya langkah menuju kamar Ratri. Anak itu tertidur dengan badan melungkar, penuh beban. Manik-manik keringat bermunculan pada leher dan ujung kening; ia hampiri kemudian mengusapnya lembut. Seekor nyamuk yang hinggap di betis dijentiknya hati-hati. Dirapatkannya selimut, kemudian keluar. Kekosongan menyergap ketika air mata dari sudut matanya jatuh. Segelas racun babi yang terdiam di meja. Rantawi melangkah ke kamar Ijah, isterinya. Ijah dengan gurat ketuaan yang makin kentara. Tersenyum dalam ketenangan mata terpejam. Begitu tabah. Bertahun-tahun wanita di hadapannya harus bekerja sendiri menggarap sawah yang masih tersisa. Rantawi tak sanggup lagi berpikir dan merasa. Langkahnya mantap. Meraup gelas. Menenggaknya dalam satu tarikan napas… Putus asa. Gendang telinganya menangkap jerit tangis meneluwung tak bertepi. Badannya terguncang-guncang. Suara-suara teriakan, derit roda, suara-suara sepatu. Kemudian sepi. Senyap. Di manakah? Mungkinkah Tuhan…

Satu kejaiban terjadi: ia menangkap mata Ratri, mata isterinya, mata Basuki. Kemudian badannya melambung ingin meraup. Sebuah tangan kokoh menahannya.Rantawi harus beristirahat, lamat-lamat katanya. Aneh, ia merasa betapa dadanya teramat lapang. Napasnya longgar tak tersumbat bunyi cengik menjijikkan. Kepala dan tubuhnya ringan. “Dua hari engkau pingsan,” begitu kata pertama ia dengar. Suara isterinya. Betulkah ia masih hidup? Rantawi ingin berteriak, “Kenapa aku di sini? Betulkah kamu Ijah? Di manakah aku?”"Asmamu kumat,” isterinya menjelaskan. “Aku membawamu ke rumah sakit. Sudahlah Kang, istirahat yang tenang. Kata dokter, asmamu kemungkinan besar sembuh. Entah kenapa.” Tuhan maha adil, begitulah ketika Rantawi tersungkur dalam sujud. Mohon ampun dan penyesalan atas sangka buruk. Tiga hari setelah berbaring di Rumah Sakit dan dinyatakan sembuh total. Empat ekor kambing disembelih sebagai rasa syukur, dan seluruh kampung turut menikmatinya. Juga tentu, Basuki. Keluarga Mayor Sulaiman telah datang turut mengucapkan gembira dan minta maaf. Tuhan maha besar.

***

SEHARI setelah syukuran, Wardoyo ditangkap. Berita menjalar cepat dari mulut ke mulut. Wardoyo membunuh Abah Marta dengan secangkir kopi dan racun babi! Pembunuhan amat keji, begitu komentar mereka. Mayat Abah Marta ditemukan membiru. Visum menyebutkan ususnya hancur membusuk. Orang-orang kampung mengutuk Wardoyo. Melemparinya dengan batu: “Kafir! Mertuamu sendiri tega kau bunuh, heh?” ramai berteriak. Riuh menggelandang Wardoyo, “Kau bunuh atas dasar apa, Wardoyo?” “Rantawi. Demi Allah, Mang Rantawi yang menyuruhku…” Rantawi terbadai. Rantawi hanya bisa mematung, tak mampu berbuat apa-apa. Teror datang menyerganya begitu tiba-tiba. Sungguh ia begitu menyesal, amat menyesal telah menceritakan seluruh rahasia kesembuhannya pada Wardoyo, adik iparnya. “Racun babi,” begitu ia menceritakan dengan mantap: “Entahlah. Segala obat telah diupayakan; tapi justru racun babi yang membikin aku sembuh. Heh, bukankah mertuamu menderita asma sepertiku?” “Bagaimana kalau ia mati?” “Tuhan telah menunjukkan sebuah keajaiban. Bahkan di dalam racun babi, bisa terdapat obat. Obat mujarab. Masih tidak percayakah kamu, Wardoyo?” Dan kini ia sangsi. Diam-diam Rantawi merasa, ia ikut bandil besar dalam pembunuhan Abah. Berhari-hari Rantawi tak sudi makan. Sampai ketika polisi datang menjemputnya untuk ditanyai: “Demi Allah, saya tidak berkomplot untuk membunuhnya!” katanya.Keras. Dan tubuh Rantawi digelandang hina. Riuh hantaman puluhan caci; orang-orang kampung bergimbung. Menuding berteriak. Kelebat bayangan Ratri ambruk. Lalu Ijah? Bergetar. Keringat dingin memercik. Gusti Allah… bayangan yang buruk. Ia seperti melihat betapa Tuhan kini tengah bergitung; menjawab tantangannya ketika ia memilih mati bunuh diri. Benarkah tak ada dosa yang tak diperhitungkan? Dan kini Rantawi dipaksa menggigil, tersentak berteriak: “Alangkah lebih terhormat mati ketimbang terhina di penjara…”

Bandung, 1993

Dimuat di Lampung post Silakan Kunjungi Situsnya! 04/03/2002

Beringin Cinta

Langit menepi. Malam pasti basah. Suara sirine melengking dalam jauh: lamat, dan menyakitkan. Irene memindahkan chanel televisi, berisik, berpindah-pindah; lalu ia matikan. Klik. Sepi. Beranjak ke kamar, melihat kaca: tak ada senyum. Bunga kacapiring di luar jendela bergoyang-goyang. Malam pasti basah. Malam pasti…“Irene. Irene. Irene…”

Fajar merekah. Dia tak datang. Malam gelap selalu tempatnya rindu. Tapi pagi keburu datang: matahari terang tak ada hujan. Telepon di kamar Irene berdering nyaring. “Angkat Irene! Pagi belum hilang alatmu sudah berisik. Bangun, Cah Ayu!” Suara Mama menggedok pintu. Dok-dok, dok-dok. Trilili. Gadis manis terbang merajuk. Jendela terbuka blak-blak kreot dan Mang Udin tersenyum di bawah menyiram bunga. “Pagi Nona!” lugu. “Pagi,” sewotlah ia. Kring-kring telepon kembali berdering, lari, disaut Nona seenak hati: “Eh lu! Entar datang kagak? Hua-ha-ha. Jam sembilan yo? Di kantin. He’em! Yap. Sip. Sip. Gua belon mandiiii.”

“Bibiiiik,” renyah Irene memanggil di kamar mandi. Bik Zubaldah berlari zig-zag meletak sapu: “Ada apa Non?”

“Handuuuuk!”

Geleng-geleng. Bunga kacapiring digoyang Udin. Sisa bunga kemarin layu dan jatuh. Ada suara Parta memanaskan mobil. Berita televisi nyaring melengking di ruang tengah. Mama teriak. Bik Zubaldah mencuci, menakar rinso. Dan angin mendesau debu di luar jauh. Kabel-kabel listrik. Jalanan ramai sedari subuh. Tak pernah teduh.

“Mamaaah, Irene pergiii. Kuliah!”

***

“Di Florida, kampusnya sama. Ada banyak pohon, tapi bukan beringin, ha-ha! Di bawahnya, tentu, di bawah pohon saat istirahat, banyak mahasiswa berkumpul, baca buku dan diskusi. Di sini, juga sama. Ha-ha. Di bawah pohon, mahasiswa ngumpul-bergerumbul untuk ngibul dan main gaple! He-he…” Nyengingis. Segerombol orang nyekakak: “Apa lu pernah ke Florida? Mahasiswa kok rajin amat, pake baca buku di bawah pohon.”

“Nggak. Itu kata Taufiq Ismail di televisi.”

“Djancuk! Suka-suka dia lah. He, lu lihat Aida kemarin kan? Asu. Ujian baca puisi di kelas pake nungging segala. Jelas, mata Pak Dorbi tak bisa dikibulin. Pasti nilainya bagus. Alamat buruk dah. Siangnya, benar saja dugaanku: dia minta cerai! Putus. Gila. Lu dulu yang ngotot mau sama Aida kan? Ambil dah sekarang. Buntingin aja sekalian. Gua udah bosen. Sumpah!”

Bibit Gondrong penjual es dan kacang ikut nyekakak: aneh? Tidak. Beringin di tengah kampus tempat jualan paling betah; dan siapa nyana. Bibit Gondrong sepuluh tahun ngendon di tempat ini —nyaman tentu saja—; di seberang dua kantin yang makin rame. Bergaul dengan mahasiswa sastra: bangga kenal seniman top yang juga dosen bernama Pak Saudi. Sesekali ikut bikin puisi jelek, biar gaul. He-he. Maklum nyampur mahluk-mahluk aneh yang kadangkala suka nyumpah-nyumpah dosen, maka “jual kacang pun perlu strategi”. Sedikit nyentrik lah, biar akur. Sengaja rambut dibikin gondrong meskipun tetap rapi, sebab siapa tahu ada mahasiswi sastra yang tertarik lalu kawin lalu mau membantu jualan kacang di sini. Bukankah itu nyentrik? He-he. Makanya, Bibit Gondrong tak perlu rikuh untuk sekedar ikut nyekakak. Apalagi topiknya lucu. Biar ikut-ikutan dibilang nyentrik: laris, akrab merasa ikut top. Toh tetap saja tak ada apa-apanya dibanding mereka. Lihat saja: ada yang bangga celananya tak pernah dicuci dua tahun (he?), ada yang laki-laki gondrong tak perlu keramas, ada yang ngaku penyair maka jarang kuliah celana robek-robek jaket bau tak pernah bawa buku, ada cewek-cewek sukanya mamerin celana dalam belakang lalu… ada yang bunting dan tetap saja bunting tak mau kawin. Lengkap. Kayaknya, dunia memang makin asyik dan ribut. Amit-amit.

Burung pipit jatuh, plak! ditembak Amin Wangsitalaja, tersenyum bangga seperti jagoan (zaman model apa lagi ya Tuhanku yang lugu, ada mahasiswa ke kampus membawa senapan angin?). Angin menyiut dari arah perpustakaan, nun, duapuluh meter di atas puncak hampir menyentuh langit —sehingga orang dengan enggan menyebutnya “atas angin”—; dengan 257 trap tangga berkelok-kelok melewati tingkatan-tingkatan tempat terpenting semacam: (1) gedung bazar pakaian import dan alat kecantikan serta sedikit ramuan tradisional kejantanan Cina, yang dipadu dengan 8 meja biliard, mutlak milik saham para guru yang dipimpin langsung Bapak Rektor Sebagai Pembina; (2) klinik kesehatan serta kamar penerangan KB, poster-poster HIV terbalik, dan alat peraga berupa contoh-contoh kelamin sehat; (3) bersebelahan dengan klinik, adalah Cafe Mahasiswa Abadi Sukses Mandiri (CMASM), tentu, tanggal 27 Juli kemarin cafĂ© legendaris itu dianggap sukses lantaran berhasil mengundang Inul lengkap beserta Orkes Dangdut Jonita pimpinan Haji Joni; kemudian (nomor 4) setingkat di atasnya adalah deretan kakus, melulu kakus: ada kakus mahasiswa, kakus dosen, kakus pegawai, tukang sapu, sampai satpam dan petugas parkir. Tentu bau tai. Nah, (nomor 5, tingkat gedung paling tinggi) persis di atas gedung kakus itulah letaknya perpustakaan, “Perpustakaan Atas Angin”, tak ada penghuninya, kecuali 2 petugas sial yang sudah peot ditimbun buku-buku yang seluruhnya rusak parah disantap tikus. Tak ada mahasiswa baca buku. Gedung perpustakaan itu lebih mirip tempat setan.

Angin aroma tai yang bertiup dari WC, menghembus pohon beringin, dan pipit kecil mati ditembak Amin Wangsitalaja. Tak ada belas kasihan. Anak-anak masih terus-terusan ketawa. Hidup untuk ketawa. Bunyi tulalat-tulalit SMS. Cup-cup mmmuuuah! Sinar matahari yang payah, debu-debu, kantin yang makin ramai.

Kantinku, kantinmu, kantin kita. Dikelola guru. Depan kampus, persis setelah pintu gerbang seperti lazimnya kantin-kantin di seluruh kampus seantero negeri yang kayaknya mewajibkan mahasiswanya makan sebelum masuk gedung belajar. Mungkin takut kalau mahasiswanya kelaparan ketika belajar sehingga mengganggu kecerdasan. “Makan sebelum belajar adalah baik,” begitu kata guru setiap memulai pelajaran kuliah. Tentu. Dan selayaknya pasar makan yang bermartabat, debat-debat penting sering terjadi di sana: lebih ribut dan agresif dibanding ruang belajar. Wow! Sambil ketawa. Tak harus ada logika. Terus ketawa. Perempuan lelaki, berkeciplak mulut ngomongin pantat mobil kek, atau apalah: handphone, sepatu, parfum ketek, susu susi, dlsb, dlsb, huuuah.

Angin tai masih terasa. Matahari payah nyenggol sedan jeep kijang-krista dan van KIA dari korea. Petugas parkir ngantuk setelah nyedot Dji Sam Soe. Pipit mati diinjak Bardi lantaran kesusu ngejar Intan Dewi Permadi yang lari lantaran marah lantaran malam tadi Bardi lupa nyium padahal Intan Dewi Permadi sudah minta dua kali padahal hari ini ada ulangan. “Heeei pacar!! Tungguuu… Akulah Bardi lelaki yang selalu hadir dalam mimpimu. Aku tulis seribu puisi dalam terik matahari! Dan bulan yang menghirup rindu dalam titik kebekuan batu. Aku cinta padamuuu…” Penyair! Penyair! Orang-orang bertepuk. Bardi terus berlari, merasa hebat seperti penyair. Pacar dipanggil tak peduli, ia ngebut naik krista terbaru. Mungkin berniat bunuh diri. Debu-debu mengepul. Mahasiswa lagi bersorak: Penyair! Penyair! Angin tai, dan matahari payah, ruang kuliah nun jauh di sana. Satmoko terlalu banyak merokok dan meludah. Ada Marno merobek kertas ulangan. Para guru sibuk mengajarkan sesuatu di kelas: entah puisi entah teori, yang jelas para guru sudah menghafalkannya sejak dua puluh tahun lalu.

***

Lelap malam lampu-lampu di jalan. Kota tak juga sunyi. Irene tiba disambut gonggong Doli. Seharian entah, pergi kuliah mampir ke Ratna. Jam dua belas. Di kantin ketemu Dodi. Masuk ruang belajar bersama Dodi. Kencan jam tiga, jam tujuh menyusur pantai. Jam delapan makan di kafe, ikutan nyanyi tralala-trilili. Beli kaos kaki, tisue, dan memilih CD. Lalu keliling, mampir lagi di Ratna. Tengah malam Ratna cuap-cuap, katanya Martin payah, tahu ultah makan malam hanya di loby Sahid.

Ia tanya apakah Irene telat haid? Menggeleng.

Malam basah Irene pulang. Mama tidur Parto membuka gerbang dengan mata rapat. Sunyi di kamar. Melempar diktat, nyetel televisi. Ingat Ratna ia buka celana. Kring-kring tilpun, tulalat-tulalit SMS. Jam tiga. Besok pagi jam sembilan ada kuliah. “Oke, oke. Kita ketemu seperti biasa. Cup-cup.” Ia harus tidur. Tidur untuk membuang umur.

Yogyakarta, 14 Agustus 2003

Dimuat di Batam Pos Silakan Kunjungi Situsnya! 09/07/2003

Haji

Karena bukan cerita fiksi, maka tidak mungkin Haji Jupri kawin dengan Marsiti. Tapi entah kenapa, kisah ini kemudian berkembang menjadi ruwet. Bahkan, menjadi bahan perdebatan tak habis-habis di warung-warung, tegalan, pasar, hingga masjid. Mulanya sih hanya iseng. Suatu hari Pak Haji tanya pada Kang Sirin, “Apa kamu punya bibit yang bagus, Rin?” katanya. Tentu, Pak Haji memang paling akrab dengan Kang Sirin. Bukan hanya karena Kang Sirin adalah langganan becaknya selama bertahun-tahun, tapi karena ketulusan dan keriangan Kang Sirin yang membuat Pak Haji betah.

“Kebetulan punya, Pak Haji. Betul lho, yang ini pasti sip. Saya bisa mintakan fotonya.”

Pak Haji tertawa. Nah, dari sinilah keruwetan cerita sebenarnya sedang dimulai.

Kang Sirin telah hampir sepuluh tahun berkeliling di atas becaknya. Mengantar para langganan, terutama para pedagang di Pasar Kecamatan. Seperti halnya Pak Haji, para langganan rata-rata betah ngomong-ngomong dengan Kang Sirin. Mungkin lantaran ia gesit, atau Kang Sirin memang selalu berpakaian bersih, gampang disuruh, ataukah sifat Kang Sirin yang (meskipun tak lulus SD, tak bisa baca huruf latin) tapi selalu dengan wajah riang bisa mengimbangi omongan apa pun. Nah, tentu, dari berbagai “pengetahuan” omong-omong beragam langganan itulah, maka sumber informasi Kang Sirin semakin beragam dan berkembang. Kalau tidak percaya, cobalah datang ke Pasar Kecamatan. Jika ada tukang becak dengan pakaian bersih, yang hapal nyaris seluruh gang di delapan desa, bahkan hapal hampir seluruh nama (mungkin watak orang-orangnya) maka itulah Kang Sirin!

Nah, tiga minggu berselang itulah, ia mendapat langganan baru, yang membuatnya nyambung dengan maksud Pak Haji. Langganan baru itu bernama Marsiti. Tinggal di Desa S., dan konon dia adalah pindahan dari Kota B. Lha kok ya kebetulan, Marsiti juga ngomong hal yang sama. Ia ingat persis ketika itu Marsiti juga bergurau, “Kang Rin, mungkin enak ya kalau punya suami haji?”

“Yang bener, Mbak Mar. Apa Mbak Mar belum punya suami?”

“Ah, siapa yang mau bersuamikan aku, Kang?”

“Lho, Mbak Mar itu cantik kok,” Kang Sirin tertawa. “Maksud saya, ada yang top lho. Tapi duda.”

“Siapa?”

“Haji Jupri.”

“Haji Jupri yang terkenal itu? Wah, ya jangan. Ada-ada saja.”

“Eh, siapa tahu jodoh. Omong-omong, kenapa Mbak Mar cari yang haji?”

“Entahlah. Kang Sirin ini, aku cuma guyon. Awas lho kalo bilang-bilang. ?Kan malu.”

“Ya enggak lah. Dijamin pokoknya. Tapi omong-omong, apa Mbak Mar serius nih?”

“Nggak. Cuma guyon, bercanda! Sungguh.”

Tapi siapa ngira, dari semula cuma bercanda, akhirnya berkembang menjadi rumit? Ini lantaran Kang Sirin merasa nyambung. Merasa klop. Saat Pak Haji bilang tentang bibit, mengeluh tentang perempuan, maka ia langsung bertindak dengan gesit. Nyamperin Marsiti, ngasih penjelasan ini-itu, lalu pinjem fotonya yang paling bagus. Marsiti memang cantik. Tentu saja semula Marsiti menolak, “Apa Pak Haji tahu tentang saya? Saya takut, Kang Sirin. Sungguh.”

“Pokoknya beres. Saya nanti yang akan meyakinkan Pak Haji. Dia orangnya baik. Pokoknya tidak bakal ngecewakan. Sudahlah Mbak Mar. Percaya sama saya,” dengan gayanya yang yakin Kang Sirin setengah memaksa. Tapi siapa sih, perempuan yang menolak usul buat dilamar Pak Haji? Satu hal, Pak Haji Jupri adalah orang terkaya di Desa L., hal lain tentu saja ia duda, terkenal pengajiannya ke mana-mana, dan dikenal berwajah ganteng. Meskipun tentu saja ia sudah sepuh, sudah tua dengan banyak cucu. Tapi kalau kebetulan jodoh, apa mau dikata?

“Jadi, betul Pak Haji tahu tentang saya, Kang Sirin?”

“Beres. Pokoknya biar saya yang jelaskan.”

Kang Sirin percaya. Marsiti pasti baik. Ia tak perlu menyelidikinya lebih jauh. Yang jelas ia cukup cantik, sopan, dan tidak kikir. Amat pas jika nyambung dengan Pak Haji. Lalu kenapa Marsiti takut? Ah, Kang Sirin hanya tertawa. Pastilah semua wanita akan segan dengan Pak Haji. Makanya Marsiti takut.

***

Lalu kenapa akhir kisah yang sesungguhnya cantik dan mulia ini menjadi rumit? Ini dimulai oleh satu lemparan batu pada kap becak Kang Sirin. Betul-betul satu batu, yang melayang, dan hampir membentur kepala Kang Sirin. Kalau saja ia tidak bernasib baik, entah bagaimana nasib Kang Sirin selanjutnya. Persoalannya bukan batu yang melayang, tapi kenapa tiba-tiba ada orang yang melemparkannya, dan itu dilakukan dengan terang-terangan? Di depan pasar, di mana banyak orang yang menyaksikan!

Desas-desus perjuangan Kang Sirin membuat banyak orang menjadi marah. Kang Sirin baru tahu bahwa tidak setiap kebaikan dibalas dengan hal-hal baik. Kebaikan Kang Sirin, dan ketulusannya berjuang untuk menyambungkan Pak Haji, ternyata berbalik menjadi kengerian. Bisa dibayangkan, jika tiba-tiba saja banyak langganan yang cemberut lalu cabut pindah becak lain. Bukankah itu mengerikan? Kang Sirin seumur-umur tidak pernah diperlakukan orang seperti menghadapi barang najis. Kenapa bisa Kang Sirin menyimpulkan bahwa dirinya dianggap najis? Karena orang yang pertama kali melempar batu itu bilang, “Kamu anjing!”

“Menjijikkan!”

“Kafir!”

Anjing? Menjijikkan? Kafir…. Benar-benar mengerikan. Dan orang-orang memang benar-benar memandang jijik. Kang Sirin tetap tak bisa menyimpulkan. Berhari-hari ia cuma melongo. Akhirnya tak berani keluar rumah. Tak berani narik becak. Bahkan, selentingan ia mendengar, orang-orang bakal mengepung rumah Kang Sirin. Subhanallah.

Apa dosa Sirin?

Padahal, tadinya ia cuma mau nolong. Kasihan Pak Haji. Semenjak ditinggal mati istri, ia jadi sepi. Bukankah menolong itu, kata orang tua, juga pekerjaan mulia? Dan kalau yang ditolong itu lantas memberi rezeki, jangan ditolak. “Menolak rezeki itu ndak baik, Rin,” begitu kata kakeknya dulu.

Kang Sirin menganggap Pak Haji orang susah. Sungguh, ia sering mendengar sendiri kesusahan Pak Haji. Setiap kali mengantar sehabis jualan di pasar, ia bilang, “Susahnya kalau orang sudah terlanjur dihormati, Rin. Mau minta tolong carikan istri, bilang ini dan itu, rasanya risih. Jangan-jangan malah dianggap lucu. Disangkanya kalau sudah haji, jadi imam di masjid, diundang ke sana ke mari, sudah sempurna begitu? Aku ini ya laki-laki normal lho Rin…. (Jangan bilang-bilang ya? Nanti dikiranya ndak tabah, repot jadinya). Dipikir-pikir, kok ya mendingan kamu lho Rin. Bebas cari-cari informasi, tanya-tanya, ke sana ke mari, ndak mungkin ada orang cerewet. Anak-anak lagi, sudah gede, sudah pada berumah tangga, kok ya maunya menangan terus. Ada yang bilang malu, ngisin-ngisini, malah yang bungsu bilangnya ndak jelas. Macem-macem lah Rin!”

Sudah jelas ?kan? Kalau orang semacam Kang Sirin saja tiba-tiba bisa jadi tumpuan keluhan Pak Haji, bukankah itu satu anugrah? Sedang Pak Haji orang yang paling terhormat. Amat mulia jika Kang Sirin bisa menolong. “Kang Sirin” lho, bukan Pak Soleh, Wak Katib, atau Lik Zaini yang dikenal orang sebagai ustaz. Nah, karena Kang Sirin tahu dan akrab dengan Marsiti, lalu memandang Marsiti itu baik, apa salahnya menawarkan Marsiti? Toh, kalau Pak Haji tidak mau ya tidak apa-apa. Kang Sirin tidak akan maksa. Edan po? Kang Sirin kok bisa memaksa Pak Haji. Jelas ndak mungkin. Tapi kini, Kang Sirin merasa dipentung kiri kanan.

“Aneh ya Pak Haji itu. Minta tolong malah sama tukang becak. Lantas, kita-kita yang pinter ini dianggap apa? Coba kalau terus-terang sama kita, bisa rame-rame ?kan dicarikan yang bagus, yang pantas. Bukan Marsiti.”

“Melihatnya saja sudah muntah.”

“Sirin saja yang goblok. Sudah enggak bisa baca, kere, eeee mau macem-macem. Kafir!”

“Betul Wak, harus dikasih pelajaran. Wong gendeng, orang gila, mudah-mudahan disamber gledek.”

“Ialah Gusti Allah ngasih cobaan sama Pak Haji. Padahal, apa sih kurang baiknya Pak Haji? Kok sama Sirin saja ketipu.”

“Ini pasti ada dalangnya. Ndak mungkin kalau hanya inisiatif Sirin. Aku menduga kalau ndak kelompok haji mbelgedes Kampung Ciparay ya pasti kelompok Jamaah Pangoragan yang zikirnya jingkrak-jingkrak itu. Mereka sengaja membuat jebakan untuk menjatuhkan kewibawaan Pak Haji. Pokoknya hal ini harus diselidiki hingga tuntas. Aku ndak terima Kampung kita dipermalukan.”

“Kuncinya ya Sirin itu.”

“Digebuk saja. Sekalian beres. Kepalang tanggung!”

***

“Orangnya cantik ?kan, Pak Haji? Kulitnya putih. Tidak gemuk tidak kurus. Orangnya ramah, juga sopan.”

“Punya anak tidak Rin?”

“Tidak Pak Haji. Suaminya dulu meninggal muda. Pokoknya sip Pak Haji, orangnya juga baik.”

“Syukurlah kalau tidak punya anak. Itu yang diharapkan. Sedikit berumur tak apa. Yang penting rumah ada yang ngurus. Tidak terlalu repot kalau habis jualan di pasar. Tapi, o ya, kira-kira apa dia mau dikerudung?”

“Mungkin mau Pak Haji. Dia juga salat kok.”

Kang Sirin mesam-mesem ketika diselipi uang lima puluh ribu. Tak baik menolak rezeki meskipun besar. Hanya ditemani Pak Kadir, kerabat jauh Pak Haji yang amat dipercaya, mereka bertiga berangkat melamar. Tak perlu ribut-ribut. Dan pada hari berikutnya, Kang Sirin ikut jadi saksi. Seumur-umur jadi manusia, pada kali itulah Kang Sirin bisa merasa jadi orang penting.

Daldiri, anak Pak Haji paling bungsu yang masih SMA, malah menolak ketika diajak:

“Mau ikut ke Sindang tidak Ri?”

“Wah, besok ulangan je, Pak!” Daldiri sama sekali tak terpikir kalau hari itu bapaknya kawin. Biasanya, paling banter hanya mengisi pengajian. Sehari setelahnya, ketika Pak Haji tiba-tiba membungkusi pakaian, barulah Daldiri heran sembari tanya, “Mau ke mana sih Pak?”

“Kemarin kamu diajak tidak mau. Bapak sudah kawin, Le.”

Kawin? Itulah yang membikin Daldiri blingsatan, geger. Dalam situasi gawat semacam itu, Daldiri lari ke sana ke mari. Tilpun ke sana ke mari. Lapor pada ketiga kakaknya: Magelang, Solo, dan Temanggung. Jam tiga dini hari, mereka semua berdatangan dan langsung menuju Sindang. Pengantin lelaki diculik! Tanpa ampun. Digeret. Dipaksa untuk ikut. Di Pesantren Bambu Kuning Temanggung, anak-anak langsung mengepung dan menginterogasi. Menyemburkan seluruh kekecewaan, penyesalan, dan keberatan-keberatan yang tak boleh dibantah!

“Yang betul saja tho Le kalau njemput itu. Bikin geger dan kecewa.”

“Justru Bapak itulah yang gak bener. Sudah tua kok ya kurang waskita. Kurang pertimbangan. Asal tangkap tanpa perundingan. Mbok ya ngasih kabar atau gimana, apa sih susahnya? Begini-begini juga anakmu itu dihargai, dihormati. Coba kalau kedengaran santri-santriku di pesantren ini, apa ya ndak memalukan? Bikin lebih geger? Pokoknya tidak ada alasan, detik ini juga harus dicerai! Saya carikan yang bagus. Yang pantas. Yang iman. Kawin kok sama lonte.”

Jangankan Pak Haji, Kang Sirin saja yang jadi pusat cerita tidak tahu kalau Marsiti itu bekas lonte. Ia kenal dan akrab sama Marsiti karena juga langganan becak. Malah kalau dihitung-hitung, ya Marsiti itulah langganan luar kampungnya yang paling jauh. Makanya kalau banyak orang memaki, Kang Sirin sesungguhnya ndak terima. Demi Allah Kang Sirin tidak bermaksud menjerumuskan Pak Haji. Kang Sirin saja barangkali, jika ketemu Marsiti sekarang, kepingin rasanya meludah. Memaki-maki Marsiti dengan kata-kata setan dan najis seperti yang diucapkan orang-orang. Tapi entah bagaimana alur dan konflik ceritanya, akhir-akhirnya Kang Sirin kok yang malah jadi suka sama Marsiti.

***

Konon, menurut data-data yang bisa ditelusuri, Kang Sirin memang bukan tipe orang cerdas. Pada suatu hari Kang Sirin ketemu Marsiti berwajah pucat, berbadan kurus, dan selalu batuk-batuk. Betul-betul amat berubah, sehingga membuat Kang Sirin pangling. Tapi begitu yakin bahwa itu Marsiti, sontak ia ingin meludah. Memaki Marsiti dengan kata-kata “kamu anjing” seperti yang hingga sekarang diucapkan orang-orang pada dirinya. Bahkan ingin Kang Sirin menggampar muka Marsiti dengan batu.

Tapi Marsiti malah belum-belum sudah nangis. Entah rayuan gombal, entah elusan iblis, yang jelas iman Kang Sirin bergetar. Ia tiba-tiba menjadi iba. “Kang Sirin”‘ lho, bukan Pak Soleh, Wak Katib, atau Lik Zaini yang dikenal sebagai ustaz. Bukan lagi makhluk berwujud Kang Sirin kalau melihat adegan yang begitu dramatis itu tidak langsung jadi tragis. Tiba-tiba ia ingin ikut menangis. Dan sejak pertemuan itulah hati Kang Sirin selalu berdesir dan berpikir. Barangkali inilah yang disebut cinta? Entahlah. Yang jelas semua orang semakin jijik jika bertemu Kang Sirin. Semua orang berpikir, kok masih ada orang bebal yang oleh Tuhan dibiarkan hidup? Sudah jelas ditipu, masih sempat-sempatnya berpikir menolong.

“Apakah kalau lonte tobat, tidak boleh kawin?” begitu kata Marsiti. “Bukan berarti setiap lonte tobat itu selalu naik pangkat menjadi germo. Sudah lima tahun Siti berhenti jualan daging begituan. Karena tobat itu bisa tenang kalau Siti kawin, maka Siti kepingin kawin. Siti emoh kawin sama gento. Kawin juga harus dengan orang baik, biar Siti ikut baik. Sukur kalau suami Siti bisa ngaji, biar Siti bisa belajar ngaji. Makanya…,” Marsiti berhenti. Menyusut air mata, “Datangnya tawaran Pak Haji ibarat laron ketemu petromaks. Siti mengira itulah jawaban dari doa-doa tahajud Siti yang tak pernah berhenti untuk meminta. Meminta jadi orang baik. Meminta jodoh yang baik. Siti tak nyangka kalau ternyata akibatnya bisa dikutuk, dipisuh, disebut setan. Dulu banyak orang yang masih memaklumi Siti. Tapi kini….”

Kini Kang Sirin yang bengong. Kini Kang Sirin jadi punya pikiran sakit karena dirinya juga disebut setan. Kalau setan memang harus ketemu setan, mau apa lagi? Jelas setan yang satu ini butuh pertolongan.

“Jadi Mbak Siti ingin bisa mengaji? Dulu Kakek Kang Sirin juga mengajar ngaji. Dan Kang Sirin belajar mengaji di tempat Kakek. Kang Sirin bisa baca Alquran. Itu semua yang diajarkan Kakek Kang Sirin. Kini Kakek Kang Sirin sudah meninggal dunia. Jadi….” Jadi beruntunglah Kang Sirin dulu punya kakek dengan ilmu-ilmu yang baik. Beruntunglah Kang Sirin menjadi santri yang mengerti.

Bayangkan, jika Kakek Sirin dulu sekolah, mungkin sudah dikenal jadi orang pandai. Pandai mengajar, jadi kiai atau setidaknya guru. Jika Kakek Sirin dulu kaya, mungkin sudah jadi haji. Karena haji, maka Kakek Sirin yang jadi imam di mesjid. Seperti Haji Jupri.

dimuat di Pikiran Rakyat Silakan Kunjungi Situsnya! 02/17/2007

Orang Kampung

WAK MANGLI mulai berkeringat, –menggigil. Suara deru angin. Pohon-pohon berpatahan. Kelebat lentik pagar di depan ambruk; menembus mimpi teramat buruk. Dosa apakah? Tiba-tiba. Lentik lampu sentir menabur jelaga, menuju atap. Hitam. Ia terpaksa terbangun berkali-kali, menguping telinga. Jelas isyarat hujan. Betul. Tak ada jam. Juga suara kentong peronda yang mustinya sudah berbunyi sedari tadi. Badai dari langit itu. Lelap.

“Apakah kamu dengar juga, Juminah?” setengah mengigau, berteriak. Membangunkan istrinya, “Jangan tidur. Aku khawatir…”

“Kita bisa melihatnya besok,” pelan. Gerimit bibirnya mengguratkan garis letih. Menjawab. “Sudahlah,” ia menghibur. Tapi tak tenang. Wak Mangli hafal itu bukan isyarat baik, lalu:

“Hasnah! Bunga-bunga manggis itu pasti berjatuhan. Gagal. Ah, hujan sial. Lalu bagaimana dengan nasib Hasnah, Juminah?”

“Aku tak tahu.”

“Dengar: tahun ini tak akan ada buah. Apakah itu artinya? Besok kita akan tahu. Duh Gusti,” Wak Mangli berdoa. Telentang. Pedas matanya dan tak sanggup lagi berfikir, “Bahkan ingin rasanya mati. Kau dengar Juminah?” diam. Badai dari langit itu…

TOLOL. Memang pantas. Musim petai memanggul delapan belas bonggol petai: tersaruk-saruk dan mengetuk pintu terbunggkuk-bungkuk. Juminah, berbedak-gincu murah –dipakai sewaktu-waktu–; selendang kuning dan kebaya brukat, berjalan sepuluh kilo turun gunung. Tentu. Bau keringat dari ketiak, juga Wak Mangli –bersarung kampret dengan wajah basah; nyaris mencium dengkul Juragan Faruk ketika datang: “Kulo bawakan, Bapak Juragan Faruk! Duh, surat dari Bapak sudah kulo tahu. Kulo tak bisa baca, tapi Bapak Kadus berkata itu; bahwa, ehm, anu… Bapak Juragan Faruk katanya memintai petai. Petai asli. Betulkah? Ah, bingah amarwatasuta, gembira berkah kagiri-giri. Semoga Hasnah di sini betah. Anak saya itu, Bapak Juragan. Sare’atna-nya cuman begitu. Bodoh dan mohon petunjuk.”

Biasa mendelik tapi Juragan faham: terbahak. Mungkin lucu. Juga suka. Metingklak di atas kursi. Teriak memanggil babu, pekak. Ludah menyemprot gigi tongos, sungguh patut: “Hasnaaah!!”

Senang. Wak Mangli memandang tak bosan-bosan. Gadis, ya, sudah perawan. Sebesar itu. Anaknya, buah hati. Kesayangan. Diambil empat tahun lalu untuk jadi _batur_. Jadi babu. Bayangkan, melayani Faruk! Sungguh besar anugrah Gusti Allah. Tapi nyaris. Tiga tahun lalu, dasar Hasnah memang bodoh, anak itu kabur. Marah. Pertama kali seumur-umur Wak Mangli memukul: “Kamu yang tolol Hasnah! Ya Gusti…”

“Tapi Hasnah dijotos. Digerus. Endas Hasnah dibentur-bentur. Lihat, endas Hasnah masih metingul sebesar jengkol. Bengkak. Warnanya hijau. Oh…”

“Kamu. Kamu yang salah pasti. Dasar! Kamu itu, tak ngerti berkah. Dungu. Tak sembarang orang, tahu, bisa melayani Faruk! Pergi, ayo, kembali dan minta ampun,” mengumpat. Dulu. Katanya dicakar Bu Juragan juga. Digencet palu. Amit-amit. Anak jaman sekarang tak faham, bahwa begitulah cara priyagung memberi ajar. Mewangsitkan petuah. Sopan santun. Agar patuh. Berbakti dan mengabdi. Sungguh. Tapi tak apa. Hasnah masih kencur. Makanya harus dipaksa: “Ayo. Kemasi lagi pakaianmu, nduk. Bapak yang akan ngantar. Bapak akan ngglesot, nyembah. Mencium kaki. Meminta ampun…”

Gemeragap bayangan kembali memercik. Hasnah bisa pergi. Dipaksa. Tapi begitulah, memang takdir Gusti Allah: empat bulan barusan, Hasnah kembali. Datang. Berdiri diambang pintu: ketawa nyekakak. Rambut trondol, cepak, seperti –ah, ya, demit mur; katanya… binatang pilem. Astaga. Bedak merah. Tebal. Gincu abang dan, celana komprang pendek mirip petani, “Kamu…”

“Hasnah bunting. Ditiduri Pak Faruk. Semalam dua kali. Enak. Ini surat. Suruh datang. Bapak disuruh ke sana. Nyembah. Dan minta ampun.”

LANGIT. Tumpah _menjelegurkan_ bunyi pekak. Bledek. Barangkali runtuh. Tujuh turunan amit-amit, Juminah nangis segruk-segruk: alangkah. Jika masanya anugrah datang. Tapi hujan! Angin sial puting-beliung siapa tahu. Merontokkan harapan itu. Tentang gugurnya bunga-bunga manggis, duh! Impian Wak Mangli, bahwa empat bulan lagi Hasnah bakal kawin. Tak perlu bawa-bawa ubo rampe segala; duit, biaya seabrek-abrek seperti orangtua perawan kampung dipinang perjaka. Nanggap wayang. Duih, amat astaga mahalnya. Darimana? Duit sejuta melihatpun tak bakal. “Tak perlu,” begitu Bapak Juragan Faruk, malaikat itu, membenarkan sambil pethakilan dan ludah muncrat-muncrat: “Hasnah akan kawin dengan Udin. Ibu Faruk setuju. Nyembelih kambing, empat kambing dan… wayang! Hok-hok-hok, ueddan. Udin itu. Anakmu bakal jadi orang kota. Bisa nulis, Udin itu, juga bisa baca. Bisa nyopir. Dia, Udin itu, calon suami Hasnah, juga kerja di sini. Jadi sopir. Pintar dia. Turunan bagus.”

Katanya. Wak Mangli hanya nangis. Iba. Juga Juminah, –berkali-kali. Terimakasih. Ingin sujud dan mengucap, “Gusti Allah! Gusti Allah!!”

Udud. Sebul-sebul asap rokok dari mulut tongos. Bapak Juragan Faruk _ngendiko_, berkata lagi begini: “Jadi tak perlu bawa duit. Hok-hok-hok. Hanya ucapan terimakasih itu. Nah, Mangli, jika kupingmu tidak budek. Kudengar kau punya pohon manggis raja yang bagus. Kata orang rasanya paling enak di Dusun Jablus Melebus. Kalau panen besok, bawalah manggis ajaib. Itu sudah cukup. Seratus kilo sudah cukup. Manggis raja! Hok-hok-hok.”

“Ser… seratus, Juragan?”

Senyap. Lentik pucuk api sentir menggeriap. Wak Mangli tersadar mencangkung melamun. Jelatang hitam menabur, menuju atap. Klap!! Kilat, petir. Wak Mangli terjengat: “Cilaka, Hasnah….!!”

HARI ujug-ujug subuh. Lenyap sebentar, Wak Mangli kaget. Tertidur. Jam berapa? Tak ada jam disini. Bunyi jago kluruk meneluwung jauh, pasti. Itu suara Si Bangkok, ayam tetangga. Bumi sepi, suara angin sepoi sunyi. Aha. Wak Mangli menggerudug menggebrak jendela: gelap. Tak sabar.

“Juminah! Bangun. Siapkan obor!!”

Embun kinclong di ujung daun. Padang rumput, teranyas dingin jalan setapak diterabas telapak. Telanjang. Ada bias warna putih, di ufuk timur berkibar-kibar. Ditirai kabut: remang. Moncong tongperet menungging-nungging dengan denging irama, binatang pengisap air yang suka nyanyi serentak. Ratusan. Berdenyar-denyar menemplek pada batang-batang basah. Jalan menanjak, berkelok. Dari lembah bawah sudah terlihat _juntrung_ mentiung pohon kesayangan: manggis raja. Ohoooi! Raja manggis yang banyak dicicip para priyayi di kota, dipesan jauh hari. Pohon mukjizat itu, satu-satunya pohon penopang hidup setelah petai dan jambu klutuk. Dan kini, kembali dipinang justru dari rajanya priyayi, duh! “Hasnah! Hasnah! Semoga hujan tidak merontokkan bunga!! Dan kawinlah kau. Kawin!” melonjak. Doanya perih. Pada Gusti, pada malaikat, dan harapan dari berkah Juragan Faruk.

Melompat jadi bergas. Gemerudug ia-nya, cemas. Buru-buru. Wak Mangli itu, serasa jantung mendegup, –berlari. Juminah terengah menghempas nafas. Sesak. Tertinggal jauh langkah Wak Mangli. Cepat. Kelebat sosok Wak Mangli lenyap ditelan gerombol semak. Lentik obor tak perlu, dibuang Juminah, lantaran langit berubah. Ia berhenti, mendadak:

“Juminaaaah!! Juminaaaah!!” dari jauh. Suara teriak tertatih-tatih. Empat orang menyusul. Memanggul gergaji, kapak, tengah menanjak; dan segulung tambang besar. Untuk apakah? Tertegun. Ada firasat buruk, naluri perempuan petani berbisik. Aneh.

“Kaukah itu, Juminah?” berteriak. Semakin dekat.

“Ya.”

“Tadi malam hujan sangat deras,” jelas. Wajah Pak Kadus Jablus Melebus mulai bicara. Tersengal-sengal. Semakin tegas. Tiga penebang lain: Emen, Karto, dan Sali, berotot kekar: hanya terdiam. Kikuk. Pandang matanya berkilat. Juminah melongo.

“Ada kabar kiriman surat untukmu. Maksudku, tadi sore. Tapi hujan sangat deras. Aku tak bisa mengantar. Ah, maksudku, surat itu sangat penting. Makanya aku susul kemari. Tadi pagi-pagi, aku ke rumah. Ya Tuhan,” gugup. Pak Kadus menunjuk selembar kertas. Tengadah ke langit: “Dari Bapak Camat Umar…”

“He?!” Juminah. Melotot lutut bergetar. Gusti Allah!

“Betul. Kamu dapat anugrah. Maksudku, ya Tuhan, begini,” berbisik. “Sebagai warga yang paling baik, begitu kata Bapak Camat Umar. Kamu harus rela. Dimana Wak Mangli?” menunjuk. Juminah tak paham.

“Begini: kamu kan tahu, Juminah, sekarang musim hujan? Jembatan Cihampelas sudah dua kali hanyut. Kamu suka lewat ke sana bukan? Juga Wak Mangli. Nah, begini, katanya… ehm. Menurut anu, eh, warga kebanyakan,” clingak-clinguk. Sejenak sunyi. Emen dan Karto membuang muka. Entah. Sedang Juminah beku.

“Baiklah,” katanya. Tegar dan malu-malu: “Jembatan itu harus dipatok dengan kayu yang besar. Tak ada kayu yang lebih besar selain manggis raja milikmu. Bukankah begitu, Juminah? Semua orang tahu. Betul. Bapak Camat bilang begitu. Pagi ini harus ditebang. Kamu beruntung, Juminah. Kamu telah disebut Bapak Camat Umar itu, sebagai… ah, apa katanya itu?” Kadus melongok Sali. Meminta bantuan. Emen dan Karto melengos. Nyinyir mereka, berwajah keras, lantas meludah: “Pahlawan pembangunan!”

Tak ada cakap. Bayang Wak Mangli mengabur di sana. Sebentar. Juminah beku. Juga bayangan Hasnah, anak perempuan yang bakal kawin. Dan manggis raja kesayangan? Kini tak ada hujan. Jadi teramat sunyi. Bukit ini paling biru. Paling sedih. Sedang matahari mengambang. Meleleh. Mungkin. Sebab air mata Juminah tengah menitik. Seperti telaga. Juga di sini. Sampai kapan?

Yogyakarta, 1997

Yogyakarta dan Barometer Cerita Pendek Indonesia

Saat ini, memasuki milenium ke tiga, di saat negara-negara tetangga kita (Malaysia, Singapura, Pilipina, dan kemudian menyusul Cina serta India) sudah mulai mensejajarkan diri di panggung global; Indonesia justru terpuruk dan kehilangan kesejarahannya. Kita tetap meyakini sebagai bangsa yang luhur, halus, berbudi pekerti dan sopan santun; tapi kekerasan dan kebrutalan (teror, pembunuhan, penjarahan) adalah fakta yang menghancurkan harga diri bangsa di hadapan bangsa-bangsa lain di dunia. Indonesia, kini lebih dikenal sebagai salah satu negara terbelakang yang kasar dan primitif.

Tingkat korupsi, moral para politisi, pejabat negara, aturan hukum, nyaris semuanya terpuruk. Ada lompatan besar kebudayaan yang salah, yang harus dibayar mahal, dan membutuhkan waktu satu generasi untuk memperbaikinya; yakni budaya tulis (dan baca). Kita telanjur melompat dari budaya lisan menuju audio-visual.

Sistematika peradaban di manapun, pada negara-negara yang kuat dan maju, mau tidak mau harus melewati 3 tahapan kebudayaan, yakni: (1) budaya lisan, (2) budaya tulis (dan baca), dan (3) audio-visual. Pada tahapan ke-2 itulah, kesusastraan memegang kunci sebagai gerbang untuk mengenal bacaan, mengenal sistematika tulisan, dan merangsang daya fikir untuk bertanya. Membaca dan menulis, dipercaya sebagai rangkaian kesatuan yang mutlak dibutuhkan sebagai basis ilmu pengetahuan. Daya serap bacaan, serta kemampuan merangkaikan logika dalam tulisan, merupakan salah satu indikator kuatnya sumber daya manusia dalam sebuah negara. Maka adalah layak jika kesusastraan mendapatkan tempat yang cukup terhormat di banyak negara-negara maju.

Dan kita, Indonesia, yang mendapatkan diri sebagai bangsa yang sangat rendah daya bacanya; telah berani melompat jauh menembus budaya audio-visual yang sungguh miskin analisis. Tanpa basis baca-tulis yang kuat, lewat budaya audio-visual; kita hanya akan dididik menjadi sebuah generasi pemakan yang sungguh tidak akan berdaya menghadapi serbuan konsumerisme yang tanpa batas. Tentu, untuk memperbaikinya, sekali lagi butuh waktu yang tidak pendek, dan juga tidak gampang.

Kemungkinan Baru

Cerita pendek, adalah salah satu genre sastra di samping puisi dan novel. Dilihat dari segi pertumbuhan (produktivitas) dan perkembangannya, secara umum karya-karya sastra Indonesia memperlihatkan fenomena yang sangat luar biasa. Banyak muncul karya-karya yang menawarkan kemungkinan baru baik dari segi eksplorasi bahasa, penjelajahan tema dan keberanian bereksperimentasi, serta tumbuhnya sastrawan-sastrawan muda potensial yang penuh wawasan estetik dan gagasan kreatif.

Tapi kenyataan di atas terus-menerus berbanding terbalik; antara pertumbuhan dan perkembangan yang penuh gairah, dengan tidak adanya respons setimpal dari pihak-pihak yang diharapkan. Dari segi pembaca, ia masih membutuhkan mediator yang secara terus-menerus harus berupaya memberi kepercayaan dan keyakinan tentang betapa pentingnya kesusastraan untuk kepentingan bangsa. Dari segi media, ia masih membutuhkan tampungan yang memadai untuk berbagai eksplorasi karya.

Cerita pendek Indonesia, sebagai genre termuda dibandingkan puisi dan novel; memperlihatkan karakteristik dan perkembangannya sendiri yang sangat khas dibandingkan cerita pendek yang berkembang di negara-negara lain. Cerita pendek di Indonesia, mulai dikenal pada awal-awal tahun 1910-an, lewat kisah-kisah pendek yang ditulis M. Kasim dan Suman Hs. Genre ini kedudukannya semakin menguat ketika zaman pendudukan Jepang, dimana pemerintahan Jepang pada waktu itu, — dengan tujuan politis — memberikan banyak fasilitas bagi penyebaran cerita pendek lewat koran Asia Raja dan Djawa Baroe. Setelah runtuh pemerintahan Jepang, pada era tahun 50-an hingga 60-an lahirlah majalah-majalah yang khusus memuat cerita pendek, yakni majalah Tjerpen, Prosa, dan Kisah.

Berbagai eksplorasi cerita pendek bermunculan dengan sangat pesat, hingga kemudian muncul majalah Horison pada tahun 66, dan mengukuhkan sederet nama penulis cerita pendek Indonesia yang sangat berwibawa.

Pada era 70-an, hingga sekarang memasuki abad ke 21; pertumbuhan cerita pendek semakin kokoh dan diperhitungkan keberadaannya. Pada era ini pulalah, cerita pendek Indonesia menunjukkan fenomena yang sangat spesifik. Nyaris seluruh media di Indonesia, dari mulai koran, tabloid, majalah, serta jurnal, menyisipkan cerita pendek sebagai bagian yang cukup penting — hal yang tidak terjadi di negara lain. Tentu, produktivitas (kuantitas) penulisan cerita pendek yang begitu melimpah-ruah ini, akan menjadi bumerang dari segi kualitas.

Bagaimanapun, karya sastra tetap memiliki seperangkat teori dan hukum-hukum tersendiri yang dapat menentukan apakah karya itu memiliki bobot dan kualitas sebagai karya sastra.

Dari sisi inilah, ide Yayasan Cerita Pendek Indonesia digulirkan di Yogyakarta — kota yang merupakan salah satu barometer kebudayaan. Beberapa penulis cerita pendek, akademisi, kritikus sastra, dan didukung 2 penerbit besar, telah sama-sama berkumpul satu meja dan merumuskan sebuah wadah yang memungkinkan menjadi mediator bagi pertumbuhan cerita pendek yang sehat. Dengan tujuan ikut merentangkan jembatan ke arah keseimbangan dan kemajuan perkembangan cerita pendek Indonesia secara khusus, dan secara umum ikut memberikan kontribusi ke arah penguatan daya baca lewat gerbang kesusastraan.

Salah satu bentuk dari gerakan ini yang telah terwujud, adalah dengan diterbitkannya Jurnal Cerpen Indonesia, yang telah diluncurkan beberapa bulan yang lalu. Tentu, bantuan dan dukungan dari semua pihak, akan memuluskan tujuan ini. Indonesia, adalah sebuah negara dengan wilayah yang sangat-sangat besar; yang menuntut semua sisi untuk bergabung, berfikir, dan terutama: berbuat.

dimuat di Kedaulatan Rakyat 02/17/2007